Beranda/Berita/Studi terkontrol secara acak tentang gastrektomi lengan vs bypass lambung! Mana yang bekerja lebih baik?

Studi terkontrol secara acak tentang gastrektomi lengan vs bypass lambung! Mana yang bekerja lebih baik?

January 2, 2025
Studi terkontrol secara acak tentang gastrektomi lengan vs bypass lambung! Mana yang bekerja lebih baik?

Bedah metabolik bariatrik memberikan manfaat klinis jangka panjang pada obesitas dan komplikasi terkait, dan jumlah prosedurnya terus meningkat secara global. Perbandingan antara sleeve gastrectomy laparoskopik dan bypass lambung Roux-en-Y laparoskopik tetap menjadi topik penting dalam praktik klinis.

Operasi metabolik obesitas mempunyai efek yang akurat dan bertahan lama dalam mengobati obesitas dan komplikasi terkait, dan jumlah operasi di seluruh dunia berkembang pesat. Gastrektomi lengan laparoskopi (SG) dan bypass lambung Roux-en-Y laparoskopi (RYGB) adalah prosedur bedah yang banyak digunakan, dan perdebatan tentang kemanjuran yang lebih baik dari kedua metode bedah ini tidak pernah berhenti. Para peneliti membandingkan hasil perioperatif SG dan RYGB. Hasil penelitiannya dipublikasikan di JAMA Network Open, sub-jurnal JAMA (2023 impact factor 10.5, JCR Q1). Yuk langsung ke “jawabannya” dulu: Uji coba terkontrol secara acak (RCT) ini melibatkan 1.735 pasien yang menjalani operasi bariatrik untuk pertama kalinya dan menemukan bahwa risiko perioperatif lebih rendah untuk SG dan RYGB, tanpa ada perbedaan klinis yang signifikan antar kelompok. Lalu pergi ke "Gambar": Diagnosis komplikasi dari operasi ulang 30 hari setelah gastrektomi lengan dan bypass lambung Roux-en-Y Risiko efek samping dan efek samping serius tidak berbeda secara statistik antara SG dan RYGB Lihat cara kerja penelitiannya: Abstrak Tujuan: Untuk membandingkan hasil perioperatif pada SG dan RYGB. Desain, setting, dan peserta: Dalam uji klinis acak multisenter berbasis registri ini (Bypass Equipoise Sleeve Trial), data dasar dan perioperatif untuk pasien yang menjalani operasi bariatrik dari 6 Oktober 2015 hingga 31 Maret 2022 dianalisis. Pasien berasal dari rumah sakit universitas, regional, kabupaten, dan swasta di Swedia (n = 20) dan Norwegia (n = 3). Orang dewasa (berusia ≥18 tahun) yang memenuhi syarat untuk operasi bariatrik dengan indeks massa tubuh (BMI; dihitung sebagai berat dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter kuadrat) 35 hingga 50 dipelajari. Intervensi: Laparoskopi SG atau RYGB. Hasil dan tindakan utama: Komplikasi perioperatif dianalisis sebagai semua efek samping dan efek samping serius (Clavien-Dindo grade >IIIb). Kematian sembilan puluh hari juga dinilai. Hasil: Sebanyak 1.735 dari 14.182 pasien yang memenuhi syarat (12%; 1.282 [73.9%] perempuan; usia rata-rata (SD), 42.9 [11.1] tahun; rata-rata [SD] BMI, 40.8 [3.7]) dilibatkan dalam penelitian ini. Pasien diacak dan menjalani SG (n = 878) atau RYGB (n = 857). Waktu operasi rata-rata (SD) lebih pendek pada mereka yang menjalani SG vs RYGB (47 [18] vs 68 [25] menit; P <0,001). Median (IQR) rawat inap pasca operasi di rumah sakit adalah 1 (1-1) hari pada kedua kelompok. Tingkat penerimaan kembali dalam 30 hari adalah 3,1% setelah SG dan 4,0% setelah RYGB (P = 0,33). Tidak ada angka kematian dalam 90 hari. Kejadian efek samping selama 30 hari masing-masing adalah 40 (4,6%) dan 54 (6,3%) pada kelompok SG dan RYGB (rasio odds, 0,71; 95% CI, 0,47-1,08; P = 0,11). Angka yang sesuai untuk efek samping serius adalah 15 (1,7%) untuk kelompok SG dan 23 (2,7%) untuk kelompok RYGB (rasio odds, 0,63; 95% CI, 0,33-1,22; P = 0,19). Kesimpulan dan relevansi: Uji klinis acak terhadap 1.735 pasien yang menjalani operasi bariatrik primer menemukan bahwa SG dan RYGB dilakukan dengan risiko perioperatif yang rendah tanpa