Beranda/Berita/IFSO 2025: Endoskopi Sebelum dan Sesudah Bedah Bariatrik

IFSO 2025: Endoskopi Sebelum dan Sesudah Bedah Bariatrik

November 3, 2026
IFSO 2025: Endoskopi Sebelum dan Sesudah Bedah Bariatrik

Pembaruan IFSO 2025 tentang endoskopi saluran cerna atas sebelum dan sesudah bedah bariatrik: temuan, tujuh rekomendasi, dan keterbatasan bukti.

Apakah setiap pasien perlu menjalani endoskopi saluran cerna atas sebelum bedah bariatrik? Bagaimana pemantauan setelah sleeve gastrectomy atau bypass lambung satu anastomosis? Pada 2025, International Federation for the Surgery of Obesity and Metabolic Disorders (IFSO) menerbitkan pernyataan posisi terbaru tentang endoskopi sebelum dan sesudah bedah bariatrik dan metabolik. Artikel ini merangkum poin pentingnya bagi pembaca klinis.

Mengapa endoskopi sebelum bedah bariatrik diperdebatkan

Endoskopi praoperasi dapat menemukan kondisi yang mengubah rencana, tetapi memerlukan waktu dan sumber daya, dan praktiknya sangat beragam. Survei tahun 2022 yang dikutip dalam pernyataan itu menunjukkan 53,7% ahli bedah rutin menawarkan endoskopi praoperasi, dan hanya 14,3% menawarkan endoskopi rutin satu tahun setelah operasi.

Menurut bukti yang ditinjau panel IFSO, sekitar 61% endoskopi praoperasi menunjukkan kelainan. Kurang dari 1% pasien memiliki kondisi yang membatalkan operasi, tetapi sekitar 35% memerlukan terapi atas temuan tersebut, dan pada sekitar 23% prosedur yang direncanakan diubah. Gejala kurang mampu memprediksi temuan.

Esofagus Barrett setelah sleeve gastrectomy

Kekhawatiran tentang refluks dan esofagus Barrett setelah sleeve gastrectomy menjadi alasan utama perhatian pada endoskopi pascaoperasi. Dalam studi yang ditinjau, esofagus Barrett ditemukan pada 2,4% pasien setelah bedah bariatrik. Pada studi dengan endoskopi praoperasi dan pemantauan minimal dua tahun, Barrett baru (de novo) dilaporkan 3,53% setelah sleeve gastrectomy, 3,5% setelah bypass satu anastomosis, dan 1,7% setelah bypass Roux-en-Y. Pernyataan tahun 2020 merekomendasikan endoskopi pada satu tahun, lalu setiap dua hingga tiga tahun setelah sleeve gastrectomy dan bypass satu anastomosis.

Tujuh rekomendasi

Pembaruan 2025 memuat tujuh rekomendasi:

Rekomendasi 1: endoskopi praoperasi sebaiknya sungguh-sungguh dipertimbangkan untuk semua pasien.

Rekomendasi 2: endoskopi wajib bila ada gejala alarm seperti sulit menelan, nyeri menelan, penurunan berat badan tidak disengaja, anemia, atau perdarahan saluran cerna.

Rekomendasi 3: endoskopi diindikasikan untuk refluks baru atau refrakter setelah operasi.

Rekomendasi 4: pasien dengan esofagus Barrett yang sudah diketahui tetap menjalani surveilans sesuai pedoman nasional.

Rekomendasi 5: surveilans rutin diputuskan bersama pasien.

Rekomendasi 6: pada esofagus Barrett yang sudah diketahui, prosedur bypass dapat lebih dipilih daripada sleeve gastrectomy.

Rekomendasi 7: diperlukan penelitian lebih lanjut.

Seberapa kuat buktinya?

Panel terbuka tentang keterbatasan: data heterogen, kemungkinan bias tinggi, definisi bervariasi, dan pemantauan lebih dari dua tahun terbatas. Bukti direkomendasikan untuk ditinjau ulang dalam tiga tahun. Dalam praktik, pembaruan ini mendukung pendekatan terstruktur dan terdokumentasi, bukan satu aturan untuk semua: diskusikan peran endoskopi dengan setiap pasien, pastikan gejala alarm dan refluks baru diperiksa, serta sepakati rencana pemantauan.

Artikel ini bersifat edukasi umum bagi tenaga kesehatan dan bukan nasihat medis. Keputusan endoskopi dan pemantauan diambil oleh tim perawatan bersama pasien.

Sumber: - Brown WA et al. IFSO Position Statement on the Role of Esophago-Gastro-Duodenal Endoscopy Prior to and after Bariatric and Metabolic Surgery Procedures: 2025 Update. Obes Surg 2025 (doi:10.1007/s11695-025-08206-8) - PubMed record of the IFSO 2025 statement (PMID 41108366)